icon
icon
article hero

Mengejar Matahari Terbenam di Titik Nol Kilometer Pulau Weh Aceh

AvatarName

Tiara  •  Oct 14, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan.  Artikel ini ditulis oleh kontributor HHWT, Bunga Wulandari. Artikel telah diedit untuk menyesuaikan panjang dan agar lebih jelas. Kamu bisa menggali pengalaman traveling Bunga lainnya lewat akun Instagram-nya @bcrjunop. "Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu kembali (kembali setelah dibangkitkan." (QS. Al Mulk : 15) Berkeliling Nusantara adalah impian saya sedari kecil. Alhamdulillah, pada bulan Maret 2020 lalu saya dapat mewujudkan keinginan saya untuk mengunjungi Aceh. Walaupun kami tinggal di Indonesia, Aceh terasa amat jauh. Bermodal promo tiket Air Asia yang dibeli 6 bulan sebelum tanggal keberangkatan, akhirnya saya dapat mewujudkan impian masa kecil saya untuk mengunjungi provinsi paling barat Indonesia ini.
Saya selalu menyempatkan untuk makan makanan khas lokal setempat, seperti ayam tangkap ini. Ayam goreng dengan rasa rempah khas Aceh ditambah dengan daun kari yang digoreng rasanya bisa menghabiskan banyak nasi. 😁 Tujuan utama kami adalah Sabang, ibukota Pulau Weh. Namun, kami mengunjungi beberapa tempat di kota Aceh dahulu sebelum menuju pulau Weh. Untuk transportasi, kami menyewa mobil karena memudahkan kami untuk berhenti ke tempat yang kami inginkan.
 Salah satu lokasi yang kami kunjungi adalah Museum Tsunami yang menceritakan kejadian tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004. Selain barang-barang sisa-sisa kedahsyatan tsunami, kami menjumpai Ruangan Berdoa yang di dalamnya terdapat nama-nama korban tsunami Aceh dan tepat diatasnya tulisan Allah, diorama saat terjadinya tsunami (bikin merinding membayangkan kejadiannya), serta ruang video pemutaran kisah tsunami. Sebelumnya, kami pun sempat mampir ke kuburan massal korban tsunami. 
 Tujuan selanjutnya adalah Masjid Raya Baiturrahman. Rasa haru dan hampir tidak percaya saat kami menginjakkan kaki di masjid dengan kubah hitam dan 8 buah payung besar dihalamannya ini. Selama ini hanya kami bisa lihat di kalender dan video adzan magrib televisi nasional. Perasaan yang sama kami rasakan saat menginjakkan kaki ke tanah suci Mekkah-Madinah, mungkin karena sebutan lain dari Aceh adalah Serambi Mekah. Setelah sholat zuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju museum kapal apung PLTD milik PLN yang terseret ombak dan kini terdampar di pemukiman penduduk. Kapal dengan berat 2600 ton ini terseret ombak sejauh 4 kilometer dari pelabuhan tempat ia bersandar. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan tsunami yang begitu hebat sehingga bisa membawa kapal ini ke daratan. Perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Weh menggunakan kapal cepat dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam. Sesampainya kami di Pulau Weh, kami langsung mencari informasi sewa motor untuk kami pakai selama disana. Karena harga yang kami temukan ternyata lebih mahal dari perkiraan, kami memutuskan untuk naik bentor atau becak motor. 
Pulau Weh mempunyai kontur yang berbukit-bukit dan hamparan laut berwarna hijau tua. Pemandangan ini mengingatkan kami akan firman Allah SWT: Maka Nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan (QS. Ar Rahman:21) Kami menginap di The Freddies Sumur Tiga, sebuah penginapan tepat dipinggir pantai, agak terpencil, dan mempunyai pantai pribadi. Aceh memakai syariat Islam sebagai landasan hukumnya yang mewajibkan penduduk setempat dan pendatang untuk memakai baju sesuai syariat Islam, tidak demikian dengan pulau Weh. Kami menjumpai turis asing yang memakai bikini di pantai. Harga penginapan Freddies berkisar antara 250 ribu - 500 ribu tergantung pengunjung. Kamar kami terdiri dari masing-masing satu ranjang utama, ranjang susun, dan ranjang single . Kamar kami tidak memakai AC karena anginnya sudah kencang. Kami juga sempat memesan pizza Freddies yang terkenal itu sambil menikmati angin laut dan suara ombak yang syahdu. Keesokan harinya, kami bergegas pindah naik motor sewaan menuju penginapan ke Pele's Place yang berhadapan langsung dengan pulau Rubiah. Meskipun kami sempat tersasar, tapi tidak masalah karena pemandangan menuju penginapan kedua sangatlah indah. Setibanya di penginapan, kami pun bersiap untuk ke Pulau Rubiah. Hanya dengan Rp 50.000, kami sudah bisa naik kapal penyebrangan dan menyewa peralatan snorkeling untuk menikmati pemandangan bawah laut Pulau Rubiah.
Setelah puas berenang, kami bergegas menuju tugu Nol Kilometer untuk mengejar matahari terbenam. Masya Allah, langit sangat bersahabat sehingga kami hanya duduk menikmati suasana hingga surya tenggelam, lalu kami kembali ke penginapan. Keesokan paginya, hujan turun lebat sekali. Alhasil, kami hanya di kamar saja dan berkeliling sekitar penginapan.  Setelah terang, kami lalu check out dan menuju pelabuhan untuk kembali ke Banda Aceh. Meski harus buru-buru supaya tidak terkena hujan, tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke kota Sabang untuk membeli oleh-oleh dan mendatangi taman kota Sabang yang berhadapan langsung dengan laut. Untuk perjalanan kembali ke Banda Aceh, kami naik kapal ferry biasa karena ingin menikmati perjalanan laut. Dari pelabuhan, kami kembali naik bentor ke penginapan My Home Homestay Jalan Cut Mutia Peunayong. Penginapan kami tidak terlalu jauh dari masjid Baiturrahman dan dekat dengan pusat kuliner Peunayong. Kalau kamu ke sini, jangan lupa untuk mencicipi kopi sanger dan mi goreng Aceh yang terkenal itu.
 Kemudian pandemi melanda seluruh dunia. 😔 Sebagai warga Jakarta, sebenarnya ada rasa takut untuk bepergian pada awal pandemi. Saya takut membawa penyakit dari ibukota ke daerah karena harus melewati beberapa bandara. Belum lagi mencari masker dan hand sanitizer amatlah susah. Kami hanya berdoa agar dapat keselamatan dan dijauhkan dari segala penyakit. Tentunya kamu juga sedih karena pandemi ini amat berdampak pada semua sektor, terutama ekonomi dan pariwisata. Bukan saja pelaku wisata, turis seperti kami juga harus bersabar menunda perjalanan sampai pandemi ini selesai . Pada akhirnya saya hanya bisa melihat beberapa situs internet yang menggambarkan tempat-tempat wisata di dunia ini, seperti HHWT. Saya berharap pandemi ini cepat berlalu, karena saya sudah tidak tahan ingin segera jalan-jalan lagi mengingat menunggu refund tiket lebih lama dibandingkan menunggu jadwal tiket promo yang sudah menanti. 😅 Setiap perjalanan mempunyai kenangannya tersendiri, entah itu dari pemandangan alam, makanan, budaya, sampai harga barang-barang di lokasi tujuan. Namun, hal yang paling berkesan adalah bertemu dengan teman baru sehingga bisa membuka wawasan baru kemanapun kita pergi. Kamu pun bisa berbagi cerita dan tips traveling untuk membantu sesama traveler Muslim. Caranya cukup dengan klik halaman ini atau hubungi tim HHWT lewat email [email protected] dan DM Instagram.